Wahai pahlawan pemuda bangsa, dengarkanlah rintih gitar yang penuh kegundahan ini. Bahwa engkau dahulu berjuang untuk membebaskan kami dari penjajahan yang fitrahnya tak pernah mengandung nilai-nlai moral. Pemikiran-pemikiranmu yang kritis, memang tak pernah ternilai oleh apapun, apalagi dollar. Terbesit sketsa awal perjuanganmu dari masa ke masa yang selalu meneropong ketika ada hal yang menurutmu tak benar. Semata-mata engkau lakukan hanya demi kesejahteraan rakyat indonesia. Liatlah mereka yang telah menjadi sekat, serasa menutup diri dan menjadikan dunia ini sempit. Apalagi ketika mereka hanya merasa dan menganggap kelompok-kelompoknyalah yang paling benar. Disini saya berdiri, dan melihat sosok-sosok penerus bangsa ini telah terpecah menjadi kepentingan-kepentingan yang mendewakan dirinya sendiri. Kawan-kawan mahasiswaku apa yang kalian lakukan selama ini itu benar, tidak ada yang salah. tapi, mari kita bersatu karena sejatinya kita hanya satu. Burulah penindasan itu, burulah ketidak adilan itu, burulah kebohongan itu dan ingatlah kawan, pengetahuan hanyalah pintu awal yang membukakan kalian untuk berjalan dan terus berpikir demi memberantas duri-duri angkara di bumi pertiwi ini.Suarakan kritisime kalian wahai mahasiswa, pantang bagimu berkata IYA ketika suara kebenaran hanya dijadikan bungkus nasi yang lauk-pauknya tentang kebohongan. Dan ingatlah wahai kaum penguasa, kami ini bukan kacung-kacung m, yang kau kontrol seperti mobil remot anta baja yang tanpakeringatmu. kami buka robot yang kau seting hanya untuk keserekahan kaum-kaum elit saja. Karena kami adalah agent of social change yang akan merenung dalam lautan hikmah, yang akan selalu berfikir dalam keheningan malam serta bulan yang selalu memberikan pencerahan. Dan bergerak seperti singa yang kelaparan di kala siang. Ketika tidak ada lagi yang menyuarakan kebenaran. Bersatulah mahasiswa, dan bergeraklah untuk selalu menyuarakan kebenaran.
Selasa, 23 September 2014
Kamis, 17 Juli 2014
KITA MAHASISWA {for MABA}
Dulu kami merenung dan mendengar
Serta melihat sungai bening berubah menjadi coklat
Dengungan kami tentang pertanyaan yang keluar dari jiwa
Semerbak bau bunga yang baru mekar menjadi mahkota
Kami ada, kami tak pernah diam
Mengeram, mengaung dan berbisik
Bukan setan yang berbau mistik
Tapi jiwa yang penuh dengan logic
Kicauan burung yang merdu, layaknya angin membawa debu
Kami pun dingin dan kami bukan dinding
Kami bukan budak
Yang kau setir, seperti kuda yang kau pecut lalu berlari
Karena darah kami adalah indonesia
Tulang kami adalah pulau yang membentang
Dan Camkan....
Di belakang sana,
Masih banyak seorang ibu yang bingung mencari susu untuk anaknya
Renungkan, renungkan dan renungkan
Maksud anda kesini...
Tujuan anda kesini...
Untuk apa dan Untuk siapa
Teriak kan kawan...
Kita ini mahasiswa
Bukan lagi siswa SMA
Dan disini BEM berkata...
Selamat datang wahai pujangga
selamat datang wahai insan penerus Bangsa
Selamat datang wahai siswa yang penuh dengan Maha
"SALAM MAHASISWA"
By : OmChed
Serta melihat sungai bening berubah menjadi coklat
Dengungan kami tentang pertanyaan yang keluar dari jiwa
Semerbak bau bunga yang baru mekar menjadi mahkota
Kami ada, kami tak pernah diam
Mengeram, mengaung dan berbisik
Bukan setan yang berbau mistik
Tapi jiwa yang penuh dengan logic
Kicauan burung yang merdu, layaknya angin membawa debu
Kami pun dingin dan kami bukan dinding
Kami bukan budak
Yang kau setir, seperti kuda yang kau pecut lalu berlari
Karena darah kami adalah indonesia
Tulang kami adalah pulau yang membentang
Dan Camkan....
Di belakang sana,
Masih banyak seorang ibu yang bingung mencari susu untuk anaknya
Renungkan, renungkan dan renungkan
Maksud anda kesini...
Tujuan anda kesini...
Untuk apa dan Untuk siapa
Teriak kan kawan...
Kita ini mahasiswa
Bukan lagi siswa SMA
Dan disini BEM berkata...
Selamat datang wahai pujangga
selamat datang wahai insan penerus Bangsa
Selamat datang wahai siswa yang penuh dengan Maha
"SALAM MAHASISWA"
By : OmChed
Kamis, 26 Juni 2014
BUAT TELINGA-TELINGA YANG MENGAKU AKADEMISI !
Rintih tangis minor di pelosok negeri memanggilmu
Ada kura-kura dalam perahu dan kau
pura-pura tak tahu
Sejenak
mungkin jiwamu terganggu bahkan hancur
Karena
kau punya hati iba dan karenanya kau disebut manusia
Mungkin
mahasiswa…
Namun
iba hanya iba, yang tak berujung apa-apa
Karena
kau sakti mandra serba-guna
Layaknya
sayembara dalam sinema misteri gunung merapi
Kau
kumpulkan potongan-potongan jiwa yang hancur itu
Dengan
jurus rawa rontekmu
Lalu
pergi berlalu
Bagai
tak tahu-menahu,
Karena
tak ada untung buntungnya bagimu,
Untuk
beliau, tonggak kayu akademisi
Sakti kera sakti, sayembara mati nona lampir menari
Tak
kusangsikan,
Kau
paham banyak teori dengan rentetan gelar yang membuntuti
Namun
teori-teori hanya imajinasi usang tentang datangnya peri
Gelar-gelar
hanya tentang label harga dan citra
Jika
yang terpenting hanya perut pribadi yang terisi nasi dan juga kuku berseri-seri
Maka,
serakahmu tetap membabi,
sengsarapun
menjadi-jadi
Jika
kau anggap ilmu itu sebagai produk
Yang
hanya akan mendatangkan untung bagi instansi,
Maka
otak-otak akademisi akan tergerus dan ikut terkontaminasi
Dengan
uang sebagai orientasi
Kapitalisme
mewabahi
Ah..
Rencanamu memang sudah tersusun rapi
Rencanamu memang sudah tersusun rapi
Tanpa
ada aklamasi, tentang bagi-bagi nasi
Demokrasi
hanya alih alibi & mahasiswa di anggap komoditi
Teriak lapar biri-biri, peri datang menertawai
Jika
sudah tersusun rapi, otak buntu mencari solusi
Tak
sampai hati untuk anarki, mungkin..
Hanya
cukup literasi
Berteriak
mengusik
Manusia
sakti yang mengelabuhi hati
Serta
telinga tuli dengan demokrasi tentang bagi-bagi nasi
Asal satu orientasi dan destinasi
Lalu
kau anggap mereka layak mendapat kursi
Kura-kura dalam
perahu dan kau pura-pura tak tahu
Sakti kera sakti,
sayembara mati nona lampir menari
Teriak lapar
biri-biri, peri datag menertawai
*OM KRIWUL
Selasa, 03 Juni 2014
Persimpangan Kritisisme Mahasiswa
SUMPAH
MAHASISWA INDONESIA
Kami
Mahasiswa Indonesia bersumpah…
Bertanah
Air Satu, Tanah Air Tanpa Penindasan
Kami
Mahasiswa Indonesia Bersumpah…
Berbangsa
Satu, Bangsa yang mencintai keadilan
Kami
Mahasiswa Indonesia Bersumpah..
Berbahasa
satu, Bahasa tanpa kebohongan
Mahasiswa adalah suatu aset
berharga yang dimiliki oleh suatu negara. Mahasiswa merupakan suatu massa yang setiap individunya
mempunyai “ledakan energy” yang besar
dan sangat berpengaruh bagi Bangsa. Mahasiswa yang memiliki pemikiran-pemikiran
yang kritis serta memiliki semangat pengorbanan yang sangat tinggi. Karena
mahasiswa adalah “ Agent Of Sosial
Change”.
Masa depan bangsa tergantung
pada mahasiwanya yaitu sebagai aset bangsa yang tidak bisa dinilai dari apapun
apalagi Dollar. Selain itu mahasiswa selalu meneropong arah kebijakan kaum elit, baik itu ruang
lingkupnya negara maupun kampus. Karena mahasiswa identik dengan Kritisisme, terutama ketika sejarah sudah mencatat
sebuah fakta yang terjadi 17 tahun yang lalu. Bagaimana mahasiwa berhasil
membongkar busuknya rezim orde baru. Bukti itu juga yang diperlihatkan di tahun
1928-1945 dan di tahun 1966.
Menurut hemat penulis, sekarang mahasiswa sedang berada
dalam persimpangan kritisisme. Ketika tuntutan akademis seolah mengalihkan kita
untuk bertemu, berdiskusi dan
berbincang tentang alam organisasi dan lingkungan alam sosial disekitarnya. Ingat kawan, dunia mahasiswa merupakan wadah untuk pencarian
banyak aspek tentang
kehidupan. Bisa saja aspek sosial, politik, budaya, dan juga agama. Karena saat
ini aku yakin kita sedang berada dalam proses mencari dan terus mencari. Apakah
nantinya kita akan menjadi orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah,
kritis terhadap politisi, kritis terhadap pejabat, kritis terhadap umatnya atau
kritis terhadap bangsanya. Karena kita, mahasiswa adalah kaum yang paling sadar
tentang situasi dan kondisi bangsanya.
Lain dulu lain sekarang. Dulu gerakan intelektual mahasiswa tumbuh
subur karena rasa nasionallismenya,
sehingga banyak diantara mereka memiliki idealisme tinggi dan layak menyandang
predikat pejuang. Sedangkan saat ini terlihat komitmen moral dan intelektual
mahasiswa dalam memperjuangkan apa yang
diyakininya sebagai kebenaran. Sekarang mahasiswa lebih terlena dan direpotkan
bagaimana menjadi kaum borjuis yang baik dan benar. Sungguh hebat kaum kapitalisme yang telah
mampu menciptakan budaya massa dan budaya instan bagi kami Mahasiswa.
Organ-organ ekstra kampus yang diharapkan mampu
menjadi media aktulisasi diri mahasiswa pun belum efektif. Mereka hanya sibuk
dan berkutat pada ranah politik kampus. Peran mereka yang seharusnya bisa lebih
pro melihat realitas lingkungan sosial justru hanya menjadikan mahasiswa
sebagai objek rekruitmen anggota baru kelompoknya, yang maksud dan tujuannya
tak lain hanya untuk meng “Goal” kan kepentingan organnya sendiri. Ada lagi yang lebih parah, diamana organ
ekstra tersebut hanya menjadi benalu dan taunya hanya demo yang memacetkan
jalan.
Dosen-dosen demikian , ketika mahasiswa masuk kelas mereka menitipkan pesan-pesan :
Nak… belajar yang bener yaa, terus dapet IPK yang tinggi habis itu cari kerja, nikah… terus nabung yang banyak, biar nanti anak mu gak mlarat. Gak penting… Curha ya buk J
Nak… belajar yang bener yaa, terus dapet IPK yang tinggi habis itu cari kerja, nikah… terus nabung yang banyak, biar nanti anak mu gak mlarat. Gak penting… Curha ya buk J
Teringat………………!
Harapan Pak Soekarno terhadap
kita (Mahasiswa) adalah mahasiswa yang suka membaca alias kutu buku dan juga
selalu memperhatikan lingkungan sosial disekelilingnya. Saya ingat kata-kata Bung hatta dalam
pidatonya di UI pada tahun 1968. Bung Hatta mengatakan “tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa bukan hanya pada
tatanan teks-teks saja, tetapi juga terhadap masyarakat dan realitas sosial.
Perlu
direfleksi lagi bahwa pada level mahasiswa bukan hanya tentang tugas-tuga yang
diberikan dosen pada mahasiswa. Akan tetapi pada level ini mahasiswa di
harapkan membentuk paradigma berpikir dan character building. (?)
BY :
OCHED_aconk
Kamis, 17 April 2014
Kapitalisme
Uang
awal sebagai usaha bisa disebut modal. sehingga seseorang yang mempunyai
modal bisa mebuat suatu usaha kerja untuk kebutuhan hidupnya. dengan
do'a dan usaha, suatu kerja yang dia lakukan bisa menambah laba,
pendapata/perolehan.
tapi yang banyak terjadi saat ini, para pemilik modal mulai melupakan sumber-sumber tambahan/bantuan yang dikandungnya. yaitu dengan cara meningkatkan produktivitas kerja yang hidup dengan seribu atau seratus kali lipat. dan sebagai gantinya mengklaim suatu kompensasi tertentu yang di istilahkan laba atau pendapatan. seperti kita tau, bahwasanya dalam kenyataannya terjadi sedemikian rupa sehingga laba-laba dari kerja tersimpan dan modal kaum ini semakin kolosal. seingga upah-upah kerja yang hidup itu terus menerus berkurang dan masa kaum buruh yang hidup semata-mata dari upah,bertumbuh semakin banyak dan dilanda kemiskinan.
1. Bagaimanakah kontradiksi ini mesti dipecahkan ?
2. Bagaimana bisa tersisa laba bagi kaum ini bila sang pekerja mendapatkan kembali nilai penuh dari kerja yang di tambahkannya pada produknya ?
tapi yang banyak terjadi saat ini, para pemilik modal mulai melupakan sumber-sumber tambahan/bantuan yang dikandungnya. yaitu dengan cara meningkatkan produktivitas kerja yang hidup dengan seribu atau seratus kali lipat. dan sebagai gantinya mengklaim suatu kompensasi tertentu yang di istilahkan laba atau pendapatan. seperti kita tau, bahwasanya dalam kenyataannya terjadi sedemikian rupa sehingga laba-laba dari kerja tersimpan dan modal kaum ini semakin kolosal. seingga upah-upah kerja yang hidup itu terus menerus berkurang dan masa kaum buruh yang hidup semata-mata dari upah,bertumbuh semakin banyak dan dilanda kemiskinan.
1. Bagaimanakah kontradiksi ini mesti dipecahkan ?
2. Bagaimana bisa tersisa laba bagi kaum ini bila sang pekerja mendapatkan kembali nilai penuh dari kerja yang di tambahkannya pada produknya ?
Sidebar
Search
-
Ada keheningan yang mengantarkan kedamaian bagi sebagian orang. Ada keceriaan yang tergambar dari wajah anak yang malang. Tapi aku disini te...
-
SUMPAH MAHASISWA INDONESIA Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah… Bertanah Air Satu, Tanah Air Tanpa Penindasan Kami Mahasiswa I...
-
Rintih tangis minor di pelosok negeri memanggilmu Ada kura-kura dalam perahu dan kau pura-pura tak tahu Sejenak mungkin ...
-
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan marketing yang strategis semakin diperlukan oleh universitas agar dapat bersai...
-
Em Bm Kami datang dengan damai membawa pesan rahasia Em ...
-
Dulu kami merenung dan mendengar Serta melihat sungai bening berubah menjadi coklat Dengungan kami tentang pertanyaan yang keluar dari jiw...
-
Uang awal sebagai usaha bisa disebut modal. sehingga seseorang yang mempunyai modal bisa mebuat suatu usaha kerja untuk kebutuhan hidupnya...
-
Wahai pahlawan pemuda bangsa, dengarkanlah rintih gitar yang penuh kegundahan ini. Bahwa engkau dahulu berjuang untuk membebaskan kami dari ...